“Di
bawah lazuardi yang berdarah.Wanita berwajah manis itu menghitung lagi satu
demi satu nama setiap saudara dan tetangga yang sudah pergi dilumati bumi.
Dengan
wajah penuh berparut dan bibir yang merekah.Dia menghafal lagi surah demi
surah.Sejarah perjuangan dan kematian yang bermakamkan nisan dari Firdausi.
Dengan
sepasang mata lesu,wanita berwajah manis itu termangu di sudut bangku kehidupan
sambil menatap wadi maut yang berkocak di tebing hayatnya.
Sengketa
yang mengamuk di bumimu,Palestin adalah duka perang yang membelenggu.Sebuah
peradaban riwayat kemanusian adalah sebilah belati ngeri yang
liar.Merobek-robek mangsa tanpa mengenal makna simpati.Adalah rohong algojo
yang berabad-abad dahagakan darah adalah kesaksian bagi sekian pengkhianatan.
Palestin,nyawamu
menggelepar lagi.Mengecamukkan mimpi dari ranjang hayat yang lara.Ke dunia lena
yang ngeri,perang menyegat tanah,perang menggigit langit,perang memamah makna
sejarah,perang meludah piagam ketamadunan.
Dari
album kotamu terakam,bangkai-bangkai harapan yang makin membusuk erti
perdamaian yang tersekat di kelangkang PBB bagai sebuah pasar gelap yang
senyap-senyap menjaja ketulan nyawa milik warga tak berdosa.
Malam
ini kuntum-kuntum akasia,gugur menimpa kaca jendela.Bintang-bintang meratap di
langit terbuka,angin melenturkan duka dunia ke bukit-bukit tak bernama dan
wanita berwajah manis itu terus berdoa memohon agar dunia mengembalikan manusia
ke rumah kemanusiaannya.
Mari
kita tanyakan kepada mereka,adakah mendengar khabar pembunuhan sama nikmatnya
seperti meneguk segelas wiski sambil ketawa menonton iklan di kaca tv?
Ayuh!tanyakan
kepada mereka,apakah tidak terlalu hina membiarkan kezaliman dan penganiayaan
berlangsung pada zaman yang penuh peradaban.
Di
Palestin,cuaca tak lagi mengirim makna.Musim tak lagi membawa petanda.Bau
peluru takkan lebih busuk daripada mulut musuhmu.
Hari
ini loceng yang bergema di menara dunia,adalah keriutan tulang-temulang warga
murbamu.Kencana yang bangkit dari hanyir darah dan merah luka dari lelah
langgir dan bumi yang diperkosa,adalah jihad perjuangan dari susur galur keturunanmu.
Takkan
ada selama tinggal,takkan ada erti kekalahan kerana kalian sudah memilih
perjuangan meskipun menempuhi galang penderitaan dan di sini,dengan iringan
lafaz janji maknawi kami kibarkan seribu panji nurani bersama-sama naungan
sumpah ikrar persaudaraan atas nama kemanusiaan dan keagamaaan.”
_
Al-Fatihah buat kakak-kakak kesayanganku,Aisyah Zahra dan Ainul
Mardiah.Kepergiaan diri kalian benar-benar menguji diriku.Namun perginya kalian
adalah penebus sebagai syahidah pada janji Allah.Terima kasih kerana semangat
kalian tanam di dalam diriku ini.Mungkin diriku juga akan menyusul kalian.

No comments:
Post a Comment