Wednesday, 28 March 2012

Nukilan untuk Mereka



“Di bawah lazuardi yang berdarah.Wanita berwajah manis itu menghitung lagi satu demi satu nama setiap saudara dan tetangga yang sudah pergi dilumati bumi.

Dengan wajah penuh berparut dan bibir yang merekah.Dia menghafal lagi surah demi surah.Sejarah perjuangan dan kematian yang bermakamkan nisan dari Firdausi.

Dengan sepasang mata lesu,wanita berwajah manis itu termangu di sudut bangku kehidupan sambil menatap wadi maut yang berkocak di tebing hayatnya.

Sengketa yang mengamuk di bumimu,Palestin adalah duka perang yang membelenggu.Sebuah peradaban riwayat kemanusian adalah sebilah belati ngeri yang liar.Merobek-robek mangsa tanpa mengenal makna simpati.Adalah rohong algojo yang berabad-abad dahagakan darah adalah kesaksian bagi sekian pengkhianatan.

Palestin,nyawamu menggelepar lagi.Mengecamukkan mimpi dari ranjang hayat yang lara.Ke dunia lena yang ngeri,perang menyegat tanah,perang menggigit langit,perang memamah makna sejarah,perang meludah piagam ketamadunan.

Dari album kotamu terakam,bangkai-bangkai harapan yang makin membusuk erti perdamaian yang tersekat di kelangkang PBB bagai sebuah pasar gelap yang senyap-senyap menjaja ketulan nyawa milik warga tak berdosa.

Malam ini kuntum-kuntum akasia,gugur menimpa kaca jendela.Bintang-bintang meratap di langit terbuka,angin melenturkan duka dunia ke bukit-bukit tak bernama dan wanita berwajah manis itu terus berdoa memohon agar dunia mengembalikan manusia ke rumah kemanusiaannya.

Mari kita tanyakan kepada mereka,adakah mendengar khabar pembunuhan sama nikmatnya seperti meneguk segelas wiski sambil ketawa menonton iklan di kaca tv?
Ayuh!tanyakan kepada mereka,apakah tidak terlalu hina membiarkan kezaliman dan penganiayaan berlangsung pada zaman yang penuh peradaban.

Di Palestin,cuaca tak lagi mengirim makna.Musim tak lagi membawa petanda.Bau peluru takkan lebih busuk daripada mulut musuhmu.

Hari ini loceng yang bergema di menara dunia,adalah keriutan tulang-temulang warga murbamu.Kencana yang bangkit dari hanyir darah dan merah luka dari lelah langgir dan bumi yang diperkosa,adalah jihad perjuangan dari susur galur keturunanmu.

Takkan ada selama tinggal,takkan ada erti kekalahan kerana kalian sudah memilih perjuangan meskipun menempuhi galang penderitaan dan di sini,dengan iringan lafaz janji maknawi kami kibarkan seribu panji nurani bersama-sama naungan sumpah ikrar persaudaraan atas nama kemanusiaan dan keagamaaan.”

_ Al-Fatihah buat kakak-kakak kesayanganku,Aisyah Zahra dan Ainul Mardiah.Kepergiaan diri kalian benar-benar menguji diriku.Namun perginya kalian adalah penebus sebagai syahidah pada janji Allah.Terima kasih kerana semangat kalian tanam di dalam diriku ini.Mungkin diriku juga akan menyusul kalian.

No comments:

Post a Comment